|
|
 |
| JAKARTA TEMPO DULU |
IBUKOTA REPUBLIK INDONESIA
(halaman 3 dari 3) |
| Sampai kemudian,
munculah tragedi 1965 yang menjadi noktah hitam dalam
kesejarahan Indonesia. Kala itu ketimpangan dan kemiskinan
penduduk Jakarta menjadi warna yang sangat dominan. Dalam
memoarnya Ali Sadikin mencatat bahwa di awal tugasnya
sebagai Gubernur DKI Jakarta (1966-1977) penduduk Jakarta
telah mencapai 3,6 juta jiwa. Tercatat kurang lebih 60
persennya tinggal di perkampungan sangat padat dan kumuh.
|
|
|
| Di banyak daerah, kepadatannya berkisar antara
4.000 hingga 6.000 jiwa per kilometer persegi. Kemacetan lalulintas
terjadi pada jaringan jalan-jalan yang sangat terbatas. Telekomunikasi
baru mampu melayani 26.000 pesawat. Listrik hanya mampu memenuhi
13 persen kebutuhan kota. Sementara air minum, baru memenuhi
12,5 penduduk kota. |
|
| Jakarta kini tampil
seperti kota-kota dunia lainnya yang sarat dengan
aktivitasnya |
|
|
Namun, berkah
minyak (oil boom) pada dasawarsa 70-an, telah memicu sejumlah
perubahan baru, walaupun tidak terlampau mempedulikan
kualitas lingkungan hidupnya. Ekspansi jalan kian mengembang
ke arah Jl Soedirman yang juga telah memiliki sejumlah
gedung perkantoran. Misalnya Wisma Arthaloka (1976), demikian
juga Wisma Metropolitan I. Sedangkan gedung Granada (Veteran
mulai tahun 1973) dan pada tahun-tahun berikutnya menyusul
gedung Panin, S.Widjoyo Center serta Ratu Plaza, ini dikembangkan
pada akhir dasawarsa 1970-an. |
|
| Adapun jalur Kuningan, mulai dikembangkan
pada awal 70-an. Pembangunan Jaya merupakan kontraktor utama
pembangunan jalan HR Rasuna Said, dengan panjang 3.885 meter
dan lebar 40 meter. Di kawasan ini gedung yang pertama berdiri
adalah Gelanggang Soemantri Brojonegoro (1974). Sedangkan jalur
MT Haryono menuju pasar Minggu pada tahun 1974 pula didirikan
perkantoran Five Pillar Office Park. |
| Menjelang berakhirnya dasawarsa 80-an, puluhan
gedung baru bermunculan. Misalnya, Prince Centre (d/h Gedung
Pangeran); Chase Plaza; Wisma Indocement; Wisma BCA; Summitmas
Tower; Mid Plaza; Central Plaza; Wisma Bumiputera dan sebagainya.
Demikian pula dengan gedung Bank Pemerintah yang mengambil lokasi
di Jl, Soedirman. |
| Pada tahun 1995 menurut data PT Procon Indah/JWL
Research ada 5 gedung baru yang rampung dibangun di kawasan
Segitiga Emas (MH Thamrin - Soedirman; Gatot Subroto; HR Rasuna
Said), yakni Bappindo Plaza; Gedung Artha Graha; Gedung GKBI;
Jakarta Stock Exchange Building; Summitmas II dan Plaza Exim.
Satu tahun berikutnya, di kawasan tersebut juga telah dirampungkan
gedung-gedung baru: Wisma BNI II; BII Plaza 2 dan 3; Menara
Imperium; Anggana Danamon I dan II dan sebagainya. |
| Bersamaan dengan tumbuhnya gedung-gedung
perkantoran, di Jakarta juga terus disarati dengan gedung pertokoan
baru (plaza dan super plaza) serta rumah toko (ruko) dan rumah
kantor (rukan). Di Jakarta Selatan hadir dua super plaza: Blok
M Mall dan Blok M Plaza, di samping Pondok Indah Mall, Plaza
Bintaro dan Plaza Cinere. Di Jakarta Pusat di kawasan Pasar
Baru juga dibangun plaza baru, selain Plaza Indonesia dan Plaza
Senayan serta menyusul kemudian Komplek Cempaka Mas. Di Jakarta
Utara ada Mal Kelapa Gading. Di Jakarta Timur, dengan Sentra
Primer Baru Timurnya juga mengalami perkembangan pesat. Misalnya
di sepanjang Kalimalang, Pulogebang, Klender dan Jatinegara.
Di Jakarta Barat telah berkembang pesat Mangga Dua (1988). Apalagi
didukung oleh proses renovasi areal Chinatown di Pasar Pagi
dan Petak Sembilan. Kawasan Mangga Dua yang merupakan pusat
grosir makin diramaikan dengan hadirnya Mangga Dua Mas dengan
komplek Jakarta International Trade Centre (JITC). Sementara
di Roxy, hadir komplek Roxy Mas, Tomang Plaza, Tomang Toll Shop;
Mall Taman Anggrek; Citra Land; Puri Indah Mall; Mall Mega Pluit
dan sebagainya. |

|
Peristiwa 27 Juli 1996 di
kantor DPP PDI Jl. DIponegoro 58 Jakarta Pusat, pengambil
alihan kantor DPP PDI dari kubu Megawati Soekarno Putri
oleh kubu Suryadi, merupakan awal dari terguling rezim
Orde Baru |
|
| Perkembangan yang demikian gencar itu kemudian
seolah diinterupsi oleh kerusuhan Mei 1998. Puluhan dan bahkan
ratusan gedung kantor, pertokoan, mall, dan pemukiman mewah
dibakar oleh amuk masa yang sulit dibayangkan. Para sosiolog
maupun psikholog menganggap bahwa kejadian itu tidak lain dari
ledakan amarah akibat ketimpangan yang terlampau berlebihan.
Karena itu mungkin, ada baiknya kita mengikuti apa yang difikirkan
Peter Hall (Three Systems, Three Separate Paths, 1991), bahwa
Jakarta sudah saatnya mengembangkan perencanaan humanopilis,
yaitu kota yang lembut dan manusiawi dengan menyembuhkan luka-luka
yang diakibatkan oleh perlakukan manusia yang sewenang-wenang
terhadap alam dan mengolah hubungan antar manusia dan lingkungan
binaannya secara akrab. Tanpa kesediaan itu, maka kehancuran
akan semakin cepat. Dan, Jakarta, setidaknya dapat belajar dari
pengalaman terdekatnya, Oud Batavia. |
| |
| <<
Sebelumnya |
|
 |