BERANDA | PROFIL | BERITA | FORUM | PETA SITUS | HUBUNGI KAMI | CARI
 
CARI
PROFIL
Visi dan Misi
Tupoksi
Struktur Organisasi
Pimpinan
PRODUK
Perencanaan
Mekanisme
Jangka Pendek
  RKPD
Jangka Menengah
 POLA DASAR 2002 - 2007
 PROPEDA 2002 - 2007
 RENSTRADA 2002-2007
 RPJMD 2007 - 2012
Jangka Panjang
 RTRW
 RUPE
 RUPSB
 RPJP
Pengendalian
 Pemantauan
 Evaluasi
 LKPJ 2006
 LKPJ 2007
 LKPJ-AMJ 2002-2007
 LKPJ 2008
 LKPJ 2009
 LKPJ 2010
Pengkajian & Pengembangan
  Hasil Penelitian
Pustaka
Evaluasi
JAKARTA TEMPO DULU
IBUKOTA REPUBLIK INDONESIA
(halaman 3 dari 3)
Sampai kemudian, munculah tragedi 1965 yang menjadi noktah hitam dalam kesejarahan Indonesia. Kala itu ketimpangan dan kemiskinan penduduk Jakarta menjadi warna yang sangat dominan. Dalam memoarnya Ali Sadikin mencatat bahwa di awal tugasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta (1966-1977) penduduk Jakarta telah mencapai 3,6 juta jiwa. Tercatat kurang lebih 60 persennya tinggal di perkampungan sangat padat dan kumuh.
Link Terkait
Jayakarta
STAD Batavia
OUD Batavia
Metropolitan Weltevreden
Masyarakat Betawi
Di banyak daerah, kepadatannya berkisar antara 4.000 hingga 6.000 jiwa per kilometer persegi. Kemacetan lalulintas terjadi pada jaringan jalan-jalan yang sangat terbatas. Telekomunikasi baru mampu melayani 26.000 pesawat. Listrik hanya mampu memenuhi 13 persen kebutuhan kota. Sementara air minum, baru memenuhi 12,5 penduduk kota.
Jakarta kini tampil seperti kota-kota dunia lainnya yang sarat dengan aktivitasnya
  Namun, berkah minyak (oil boom) pada dasawarsa 70-an, telah memicu sejumlah perubahan baru, walaupun tidak terlampau mempedulikan kualitas lingkungan hidupnya. Ekspansi jalan kian mengembang ke arah Jl Soedirman yang juga telah memiliki sejumlah gedung perkantoran. Misalnya Wisma Arthaloka (1976), demikian juga Wisma Metropolitan I. Sedangkan gedung Granada (Veteran mulai tahun 1973) dan pada tahun-tahun berikutnya menyusul gedung Panin, S.Widjoyo Center serta Ratu Plaza, ini dikembangkan pada akhir dasawarsa 1970-an.
Adapun jalur Kuningan, mulai dikembangkan pada awal 70-an. Pembangunan Jaya merupakan kontraktor utama pembangunan jalan HR Rasuna Said, dengan panjang 3.885 meter dan lebar 40 meter. Di kawasan ini gedung yang pertama berdiri adalah Gelanggang Soemantri Brojonegoro (1974). Sedangkan jalur MT Haryono menuju pasar Minggu pada tahun 1974 pula didirikan perkantoran Five Pillar Office Park.
Menjelang berakhirnya dasawarsa 80-an, puluhan gedung baru bermunculan. Misalnya, Prince Centre (d/h Gedung Pangeran); Chase Plaza; Wisma Indocement; Wisma BCA; Summitmas Tower; Mid Plaza; Central Plaza; Wisma Bumiputera dan sebagainya. Demikian pula dengan gedung Bank Pemerintah yang mengambil lokasi di Jl, Soedirman.
Pada tahun 1995 menurut data PT Procon Indah/JWL Research ada 5 gedung baru yang rampung dibangun di kawasan Segitiga Emas (MH Thamrin - Soedirman; Gatot Subroto; HR Rasuna Said), yakni Bappindo Plaza; Gedung Artha Graha; Gedung GKBI; Jakarta Stock Exchange Building; Summitmas II dan Plaza Exim. Satu tahun berikutnya, di kawasan tersebut juga telah dirampungkan gedung-gedung baru: Wisma BNI II; BII Plaza 2 dan 3; Menara Imperium; Anggana Danamon I dan II dan sebagainya.
Bersamaan dengan tumbuhnya gedung-gedung perkantoran, di Jakarta juga terus disarati dengan gedung pertokoan baru (plaza dan super plaza) serta rumah toko (ruko) dan rumah kantor (rukan). Di Jakarta Selatan hadir dua super plaza: Blok M Mall dan Blok M Plaza, di samping Pondok Indah Mall, Plaza Bintaro dan Plaza Cinere. Di Jakarta Pusat di kawasan Pasar Baru juga dibangun plaza baru, selain Plaza Indonesia dan Plaza Senayan serta menyusul kemudian Komplek Cempaka Mas. Di Jakarta Utara ada Mal Kelapa Gading. Di Jakarta Timur, dengan Sentra Primer Baru Timurnya juga mengalami perkembangan pesat. Misalnya di sepanjang Kalimalang, Pulogebang, Klender dan Jatinegara. Di Jakarta Barat telah berkembang pesat Mangga Dua (1988). Apalagi didukung oleh proses renovasi areal Chinatown di Pasar Pagi dan Petak Sembilan. Kawasan Mangga Dua yang merupakan pusat grosir makin diramaikan dengan hadirnya Mangga Dua Mas dengan komplek Jakarta International Trade Centre (JITC). Sementara di Roxy, hadir komplek Roxy Mas, Tomang Plaza, Tomang Toll Shop; Mall Taman Anggrek; Citra Land; Puri Indah Mall; Mall Mega Pluit dan sebagainya.

Peristiwa 27 Juli 1996 di kantor DPP PDI Jl. DIponegoro 58 Jakarta Pusat, pengambil alihan kantor DPP PDI dari kubu Megawati Soekarno Putri oleh kubu Suryadi, merupakan awal dari terguling rezim Orde Baru
Perkembangan yang demikian gencar itu kemudian seolah diinterupsi oleh kerusuhan Mei 1998. Puluhan dan bahkan ratusan gedung kantor, pertokoan, mall, dan pemukiman mewah dibakar oleh amuk masa yang sulit dibayangkan. Para sosiolog maupun psikholog menganggap bahwa kejadian itu tidak lain dari ledakan amarah akibat ketimpangan yang terlampau berlebihan. Karena itu mungkin, ada baiknya kita mengikuti apa yang difikirkan Peter Hall (Three Systems, Three Separate Paths, 1991), bahwa Jakarta sudah saatnya mengembangkan perencanaan humanopilis, yaitu kota yang lembut dan manusiawi dengan menyembuhkan luka-luka yang diakibatkan oleh perlakukan manusia yang sewenang-wenang terhadap alam dan mengolah hubungan antar manusia dan lingkungan binaannya secara akrab. Tanpa kesediaan itu, maka kehancuran akan semakin cepat. Dan, Jakarta, setidaknya dapat belajar dari pengalaman terdekatnya, Oud Batavia.
 
<< Sebelumnya
kembali ke atas