Beranda Profil Berita Forum Peta Situs Hubungi Kami Cari Informasi  
 
CARI
PROFIL
Visi dan Misi
Tupoksi
Struktur Organisasi
Pimpinan
PRODUK
Perencanaan
Mekanisme
Jangka Pendek
  RKPD
Jangka Menengah
  POLA DASAR 2002 - 2007
  PROPEDA 2002 - 2007
  RENSTRADA 2002-2007
 
Jangka Panjang
  RTRW
  RUPE
  RUPSB
  RPJP
Pengendalian
  Pemantauan
  Evaluasi
Pengkajian & Pengembangan
  Hasil Penelitian
Pustaka
SEKILAS JAKARTA
Jakarta Tempo Dulu
Jakarta Kini
Jakarta Masa Depan
LINK TERKAIT
Bapekodya Jakarta Pusat
Bapekodya Jakarta Utara
Bapekodya Jakarta Barat
Bapekodya Jakarta Selatan
Bapekodya Jakarta Timur
Bapekab Kepulauan Seribu
Bappenas
PROGRAM DEDICATED
Dedicated 2005
Dedicated 2006
Dedicated 2007
KONSEP
Pengendalian Banjir
Transportasi
Sampah
Pemukiman
JAKARTA TEMPO DULU
IBUKOTA REPUBLIK INDONESIA
(halaman 2 dari 3)
Rencana pertama pembangunan kota itu diserahkan pada M. Soesilo, seorang insinyur praktek pada Centeral Planologisch Bureau (Biro Pusat Planologi). Dan sejak itu pula, dikenal istilah Kota Satelit Kebayoran. Pada Februari 1949 rencana kota Kebayoran selesai. Pembuatan jalan-jalan dan persiapan tanah-tanah perumahan mulai berjalan dengan sistematis. Pada 18 Maret 1949, dimulailah peletakan batu pertama.
Link Terkait
Jayakarta
STAD Batavia
OUD Batavia
Metropolitan Weltevreden
Masyarakat Betawi
Dan, setahun kemudian terjadilah perubahan-perubahan sebagai berikut: 150 Ha tanah untuk perumahan telah dibuka; 1.000.000 M2 jalur jalan tanah telah disiapkan; 42 km luas jalan telah dikeraskan dengan aspal; 17 km saluran pipa-pipa air minum telah dipasang; 7 titik sumur bor telah dibuat; 2.050 unit perumahan telah selesai dibangun dari rencana sebanyak 2.700 unit. Tanah seluas 730 Ha itu dibagi untuk keperluan perumahan rakyat (152 Ha); perumahan sedang (69,8 Ha); villa (55,1 Ha); bangunan-bangunan istimewa (75,2 Ha); Flat (6,6 Ha); toko dan kios (17 Ha); industri (20,9 Ha); taman-taman (118,4 Ha); jalan-jalan (181,5 Ha) dan sawah-sawah di pinggiran (33 Ha). Semua itu dimaksudkan untuk memberi tempat kediaman bagi 100.000 penduduk.
Bermukim di tempat tersebut pasti bukan tujuannya, namun pertanyaannya, kenapa menjadi pilihannya
  Kemudian, Desember 1949, pemerintah republik Indonesia kembali ke Jakarta, dan Jakarta kembali dijadikan ibukota negara. Hal ini mengakibatkan makin meningkatntya kebutuhan kantor dan perumahan. Selain itu, jumlah penduduknya pun mengalami pemekaran luar biasa akibat Jakarta juga berkembang sebagai kota industri dan perdagangan.
Konsekuensinya, pada awal 1952 tercatat adanya pembukaan tanah-tanah liar dengan gubuk-gubuknya di seantero Jakarta. Menurut taksiran kala itu, sekurangnya terdapat 30.000 gubuk liar yang dihuni para pendatang baru. Selain itu, juga terdapat 46 macam bangsa asing yang berdiam di Jakarta, belum termasuk bangsa Indonesia sendiri. Menurut catatan, pada periode 1948-1951, terdapat surplus penduduk di Jakarta rata-rata 118.563 orang tiap tahunnya. Sementara itu, Rencana Induk DKI Jakarta 1965-1985 menghitung, rata-rata pertambahan penduduk Jakarta 124.000 orang per tahun.
Oleh sebab itu, pada 1953 muncul suatu gagasan bahwa proyeksi Jakarta masa datang akan menjadi 16.200 Ha, dan akan dibatasi oleh suatu jalan lingkar luar, yang juga dimaksudkan sebagai perluasan kota tahap berikutnya. Dari gagasan ini, kemudian muncul Jakarta By-Pass di sebelah Timur.
Sejak 1959, perkembangan ibukota menjadi bagian politik mercu suar yang bertujuan membuat RI sebagai inti dari The New Emerging Force (Kekuatan Baru yang sedang Tumbuh) di dunia. Sukses-sukses sejak Konferensi Asia-Afrika di Bandung (1955) menjadikan Jakarta sebagai pusat penyelenggaraan Asian Games IV (Pesta Olahraga se Asia) pada tahun 1962, kemudian menyusul Games of The New Emerging Forces (GANEFO) pada tahun 1963.

Jakarta sebagai The New Emerging Force (kekuatan baru yang sedang tumbuh) di dunia
Semua itu disertai oleh pembangunan jalan-jalan besar, hotel-hotel mewah, toko serba ada, jembatan Semanggi dan Komplek Asian Games di Senayan (Gelora Bung Karno), Gedung Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) yang kini menjadi gedung DPR/MPR. Sementara itu, di sisi ujung Jl. MH Thamrin dibangunlah gedung Bank Indonesia (1957); gedung kantor PT. pembangunan Perumahan (1959); Hotel Indonesia (diresmikan 5 Agustus 1962); Monumen Nasional (17 Agustus 1961) dan seminggu kemudian dibangun Masjid Istiqlal. Tahun 1962, Presiden Soekarno merestui pembangunan gedung kantor pusat Bank Dagang Negara (BDN), menyusul kemudian gedung toko serba ada pertama di Indonesia, Sarinah (1963).
 
<< Sebelumnya Selanjutnya >>
kembali ke atas