|
|
 |
| JAKARTA TEMPO DULU |
IBUKOTA REPUBLIK INDONESIA
(halaman 2 dari 3) |
| Rencana pertama
pembangunan kota itu diserahkan pada M. Soesilo, seorang
insinyur praktek pada Centeral Planologisch Bureau (Biro
Pusat Planologi). Dan sejak itu pula, dikenal istilah
Kota Satelit Kebayoran. Pada Februari 1949 rencana kota
Kebayoran selesai. Pembuatan jalan-jalan dan persiapan
tanah-tanah perumahan mulai berjalan dengan sistematis.
Pada 18 Maret 1949, dimulailah peletakan batu pertama. |
|
|
| Dan, setahun kemudian terjadilah
perubahan-perubahan sebagai berikut: 150 Ha tanah untuk perumahan
telah dibuka; 1.000.000 M2 jalur jalan tanah telah disiapkan;
42 km luas jalan telah dikeraskan dengan aspal; 17 km saluran
pipa-pipa air minum telah dipasang; 7 titik sumur bor telah
dibuat; 2.050 unit perumahan telah selesai dibangun dari rencana
sebanyak 2.700 unit. Tanah seluas 730 Ha itu dibagi untuk keperluan
perumahan rakyat (152 Ha); perumahan sedang (69,8 Ha); villa
(55,1 Ha); bangunan-bangunan istimewa (75,2 Ha); Flat (6,6 Ha);
toko dan kios (17 Ha); industri (20,9 Ha); taman-taman (118,4
Ha); jalan-jalan (181,5 Ha) dan sawah-sawah di pinggiran (33
Ha). Semua itu dimaksudkan untuk memberi tempat kediaman bagi
100.000 penduduk. |
|
| Bermukim di tempat tersebut pasti
bukan tujuannya, namun pertanyaannya, kenapa menjadi
pilihannya |
|
|
Kemudian, Desember 1949, pemerintah republik Indonesia
kembali ke Jakarta, dan Jakarta kembali dijadikan ibukota
negara. Hal ini mengakibatkan makin meningkatntya kebutuhan
kantor dan perumahan. Selain itu, jumlah penduduknya pun
mengalami pemekaran luar biasa akibat Jakarta juga berkembang
sebagai kota industri dan perdagangan. |
|
| Konsekuensinya, pada awal 1952
tercatat adanya pembukaan tanah-tanah liar dengan gubuk-gubuknya
di seantero Jakarta. Menurut taksiran kala itu, sekurangnya
terdapat 30.000 gubuk liar yang dihuni para pendatang baru.
Selain itu, juga terdapat 46 macam bangsa asing yang berdiam
di Jakarta, belum termasuk bangsa Indonesia sendiri. Menurut
catatan, pada periode 1948-1951, terdapat surplus penduduk di
Jakarta rata-rata 118.563 orang tiap tahunnya. Sementara itu,
Rencana Induk DKI Jakarta 1965-1985 menghitung, rata-rata pertambahan
penduduk Jakarta 124.000 orang per tahun. |
| Oleh sebab itu, pada 1953 muncul
suatu gagasan bahwa proyeksi Jakarta masa datang akan menjadi
16.200 Ha, dan akan dibatasi oleh suatu jalan lingkar luar,
yang juga dimaksudkan sebagai perluasan kota tahap berikutnya.
Dari gagasan ini, kemudian muncul Jakarta By-Pass di sebelah
Timur. |
| Sejak 1959, perkembangan ibukota
menjadi bagian politik mercu suar yang bertujuan membuat RI
sebagai inti dari The New Emerging Force (Kekuatan Baru yang
sedang Tumbuh) di dunia. Sukses-sukses sejak Konferensi Asia-Afrika
di Bandung (1955) menjadikan Jakarta sebagai pusat penyelenggaraan
Asian Games IV (Pesta Olahraga se Asia) pada tahun 1962, kemudian
menyusul Games of The New Emerging Forces (GANEFO) pada tahun
1963. |

|
Jakarta sebagai The New
Emerging Force (kekuatan baru yang sedang tumbuh)
di dunia |
|
| Semua itu disertai oleh pembangunan
jalan-jalan besar, hotel-hotel mewah, toko serba ada, jembatan
Semanggi dan Komplek Asian Games di Senayan (Gelora Bung Karno),
Gedung Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) yang kini
menjadi gedung DPR/MPR. Sementara itu, di sisi ujung Jl. MH
Thamrin dibangunlah gedung Bank Indonesia (1957); gedung kantor
PT. pembangunan Perumahan (1959); Hotel Indonesia (diresmikan
5 Agustus 1962); Monumen Nasional (17 Agustus 1961) dan seminggu
kemudian dibangun Masjid Istiqlal. Tahun 1962, Presiden Soekarno
merestui pembangunan gedung kantor pusat Bank Dagang Negara
(BDN), menyusul kemudian gedung toko serba ada pertama di Indonesia,
Sarinah (1963). |
| |
| <<
Sebelumnya |
Selanjutnya
>> |
|
 |