Beranda Profil Berita Forum Peta Situs Hubungi Kami Cari Informasi  
 
CARI
PROFIL
Visi dan Misi
Tupoksi
Struktur Organisasi
Pimpinan
PRODUK
Perencanaan
Mekanisme
Jangka Pendek
  RKPD
Jangka Menengah
  POLA DASAR 2002 - 2007
  PROPEDA 2002 - 2007
  RENSTRADA 2002-2007
 
Jangka Panjang
  RTRW
  RUPE
  RUPSB
  RPJP
Pengendalian
  Pemantauan
  Evaluasi
Pengkajian & Pengembangan
  Hasil Penelitian
Pustaka
SEKILAS JAKARTA
Jakarta Tempo Dulu
Jakarta Kini
Jakarta Masa Depan
LINK TERKAIT
Bapekodya Jakarta Pusat
Bapekodya Jakarta Utara
Bapekodya Jakarta Barat
Bapekodya Jakarta Selatan
Bapekodya Jakarta Timur
Bapekab Kepulauan Seribu
Bappenas
PROGRAM DEDICATED
Dedicated 2005
Dedicated 2006
Dedicated 2007
KONSEP
Pengendalian Banjir
Transportasi
Sampah
Pemukiman
JAKARTA TEMPO DULU
IBUKOTA REPUBLIK INDONESIA
(halaman 1 dari 3)
Di Tengah Perang Dunia II, Maret 1942, Jepang masuk ke Pulau Jawa dan samasekali menghentikan pembangunan Batavia. Walaupun, dalam rangka propaganda, tantara Dai Nippon mengganti nama Batavia menjadi Djakarta Toko Betsu Shi, serta menghancurkan patung JP Coen di Waterlooplein.
Link Terkait
Jayakarta
STAD Batavia
OUD Batavia
Metropolitan Weltevreden
Masyarakat Betawi
Monumen Jan Pieterszoon Coen, pendiri Batavia, dahulu di depan Departemen Keuangan sekarang
  Untuk lebih mengukuhkan propagandanya, Jepang juga menempatkan seorang Wakil Walikota Djakarta Toko Betsu Shi, yakni Soewirjo. Sementara itu, Walikotanya diambil dari orang Jepang. Penguasaan yang tidak lama ini ternyata menghadirkan sangat banyak kerusakan, hampir semua bangunan indah dan hotel dijadikan barak tentara yang samasekali tidak terawat. Sampai kemudian, 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta, atas nama bangsa Indonesia di Jl. Pegangsaan Timur (Proklamasi) No. 56 memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Satu bulan kemudian, tidak kurang dari 300.000 orang berkumpul di Lapangan Ikada (Taman Medan Merdeka), 19 September 1945. Hebatnya, massa sebanyak itu datang berkumpul berkat berita dari mulut ke mulut. Sebenarnya rapat direncanakan tanggal 17 September, tepat satu bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Namun karena ada ancaman tentara Jepang dan Sekutu, rapat raksasa di Lapangan Ikada diundur menjadi 19 September. Setelah Rapat Raksasa di Lapangan Ikada itu, menurut sejarawan Uka Tjandrasasmita, rakyat Surabaya bergelora pada 10 November 1945, demikian juga perlawanan pada penjajah terus menyebar di seluruh negeri.
Monumen Proklamator Bangsa Indonesia Soekarno-Hatta di Jl. Pegangsaan Timur No 56
  Namun Belanda, yang membonceng tentara Sekutu (NICA) tidaklah pernah mengakui proklamasi tersebut hingga Desember 1949. Dan, karena itu pecahlah Perang Kemerdekaan. Hanya saja, perang ini tidaklah berlangsung di Batavia, walaupun Bandung, Surabaya, dan juga Yogyakarta, tempat dimana Soekarno, Hatta dan beberapa pejabat tinggi lainnya dan keluarga mereka bemukim dan menjadikannya Ibukota Republik yang baru lahir itu sejak kepergian mereka dari Batavia pada 4 Januari 1946.
Oleh sebab itu, pemerintah pendudukan pun kembali menata dan merencanakan sebuah pemekaran Batavia. Rencana pemekaran kota ini ke wilayah sebelah selatan lapangan Merdeka, kira-kira 8 kilometer. Wilayah itu sendiri sebelumnya telah disurvey dengan maksud untuk membuat lapangan terbang internasional yang baru untuk menggantikan lapangan terbang Kemayoran (didirikan menjelang Perang Dunia II) yang ternyata menjadi penghalang pemekaran kota ke arah timur. Wilayah yang dimaksud adalah Kebayoran seluas 730 Ha, yang dapat dihubungkan dengan jalan raya bagi kendaraan bermotor. Daerah yang diproyeksikan bagi perumahan itu bersinggungan tepinya dengan jalan Kereta Api Tanah Abang - Serpong, yang dapat mempermudah pengangkutan bahan-bahan bangunan.
 
Selanjutnya >>
kembali ke atas