|
|
 |
| JAKARTA TEMPO DULU |
MASYARAKAT BETAWI
(halaman 2 dari 2) |
|
Sementara itu, orang yang datang dari Tiongkok, semula
hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan
perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita
Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat
Tionghoa (mis. Penduduk dalam kota dan 'Cina Benteng'
di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama
dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora,
mis: di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang
Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara.
|
|
|
|
|
|
| Orang Tiong Hoa sedang main
kartu. Lukisan A van Pers dari tahun 40-an abad
yang lalu, yang diterbitkan pada tahun 1856 di Den
Haag |
|
|
Keturunan orang India, orang Koja dan orang Bombay-
tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang
Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar,
kurang lebih tahun 1840. Banyak diantara mereka yang
bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang
pada ke-Arab-an mereka.
Di dalam kota, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan
mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang
Mardijker dari India dan Sri Lanka dan ribuan budak
dari segala macam suku. Jumlah budak itu kurang lebih
setengah dari penghuni Kota Batavia.
|
|
| Orang Jawa dan Banten tidak
diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656. Pada
tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang.
Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker,
2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981
orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah
dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku
dan bangsa (demikian Lekkerkerker). |
|
| Gereja Immanuel di Gambir
pada pertengahan abad ke 18 |
|
|
Sepanjang abad ke-18,
kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi
mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian
juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka
turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19
mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu,
yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja
Immanuel. Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun
sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan
di luar kota. |
|
| Oleh sebab itu, apa yang disebut
dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang
baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai
kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta,
seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu.
Antropolog Univeristas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA
menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara
tahun 1815-1893. |
| Perkiraan ini didasarkan atas
studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan
Australia, Lance Casle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah
selalu melakukan sensus, di mana dikategorisasikan berdasarkan
bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta
tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan
etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi. |
|
Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah
golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang
Arab dan Moors, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi
Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang
Melayu.
Namun, pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang
sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori
baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang
Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk
Batavia waktu itu.
|
|
|
| Rumah Bugis di bagian utara
Jl. Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang dimulai
pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih
terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota |
|
|
| Antropolog Universitas Indonesia
lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai
orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum
mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut
diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang
Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong. |
 |
| Foto pada kartu pos dari awal abad
ke 20 menggambarkan rumah-rumah Tiong Hoa di Maester.
Jalan ke kiri menuju pasar Jatinegara lama. Sedangkan
jalan utama adalah Jatinegara Barat menuju arah
Selatan |
|
|
Pengakuan terhadap adanya
orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai
satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas,
yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat
Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan
Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap
orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni
golongan orang Betawi. |
|
| Sejak akhir abad yang lalu dan
khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran
dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi - dalam arti apapun
juga - tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, 'suku' Betawi
mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk
Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran,
bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun
sebetulnya, 'suku' Betawi tidaklah pernah tergusur datau digusur
dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang
ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses
panjang itu pulalah 'suku' Betawi hadir di bumi Nusantara. |
| |
| <<
Sebelumnya |
|
 |