|
|
 |
| JAKARTA
TEMPO DULU |
METROPOLITAN
WELTEVREDEN
(halaman 4 dari 5) |
 |
| Batavia 1629 menurut A.F. Prevost |
|
|
|
| Memasuki
abad ke-20, di Batavia terjadi berbagai perubahan. Dikukuhkannya
Undang-Undang Desentralisasi tahun 1903 dan berbagai ordonansi
tentang kewenangan lokal dalam pengaturan kota, medorong terjadinya
perubahan secara signifikans. Perkembangan kota menjadi demikian
pesat, demikian juga pola lingkungan kota, skala ruang-ruang
kota dan lain sebagainya yang banyak dipengaruhi oleh hadirnya
kereta api, trem, mobil, truk serta jaringan listrik dan telpon.
Berbagai prasarana kota dalam skala makro juga mulai digarap.
Saluran pengendali banjir atau Banjir Kanal juga sudah mulai
dibangun dari Karet-Tanah Abang terus ke laut. Demikian pula
rel kereta api yang dimulai dengan jalur tengah dan timur, kemudian
ditambah dengan jalur barat melalui Manggarai - Tanah Abang
- Duri - Kota. |
|
| Batas-batas Batavia
lama di peta baru |
|
|
Dalam pembangunan
Banjir Kanal, perencanaannya telah dilakukan sejak 1870,
tidak lama setelah Batavia dilanda banjir besar dan baru
pada selesai pada tahun 1920. Dalam asumsi para perencana
kota kala itu, Batavia akan dihuni oleh penduduk sebanyak
600 ribu jiwa. Menteng dan Kuningan disiapkan untuk menjadi
daerah elit. Tanah Abang untuk orang Arab dan Melayu.
Glodok untuk pecinan. Senen untuk daerah perdagangan umum
serta untuk kelompok elitnya di Pasar Baru dan Gambir
untuk pusat pemerintahan. |
|
| Upaya-upaya
tersebut, khususnya untuk mengembangkan lingkungan permukiman
yang telah teratur dilakukan dengan membeli tanah-tanah
partikelir, seperti Menteng, Gondangdia, Kramat Lontar,
Jatibaru, Karet dan Bendungan Hilir. Rencana Pengembangan
itu ditetapkan tahun 1917-1918. Demikian juga dengan perbaikan
kampung yang mulai dilakukan sejak 1925, kemudian terhenti
oleh Perang Dunia II dan kemudian diteruskan oleh Pemerintah
DKI Jakarta pada 1969 dan terus berlangsung hingga kini. |
|
|
| Jembatan Pintu Air
di dekat halaman Mesjid Istiqlal tahun 1699 |
|
|
|
| Pancoran yang berarti
keran air minum di Glodok tahun 1940 |
|
|
Untuk pengembangan
lingkungan permukiman, Niew Gondangdia dan Menteng adalah
contoh praktek tata kota modern. Sebuah kota taman yang
mulai sepenuhnya mengadopsi mobil dalam tata kota modern,
suatu real estate komersial yang pertama menandai liberalisasi
ekonomi dan otonomi pemerintahan kota. Ini terutama sekali
berkaitan dengan Batavia yang sejak tahun 1926 mendapatkan
status kotamadya. Dan Menteng, yang sebenarnya dulu terdiri
dari Niew Gondangdia dan Menteng, merupakan salah satu
contoh perancangan kota modern pertama di negeri ini.
|
|
| Menteng
dibangun oleh developer swasta NV de Bouwploeg yang dipimpin
arsitek PJS Moojen yang tampaknya juga merencanakan tata
letak dasar keseluruhan kawasan tersebut. Organisasi ini,
dalam semangat ekonomi liberal dan otonomi daerah yang
sedang marak pada masa itu, mengelola perencanaan dan
pembangunan fisiknya, sementara pemerintah kotamadya hanya
melibatkan diri dalam pembebasan lahan dan penyediaan
jaringan prasarana. |
|
|
| Indah tidak selalu
identik dengan modern. Kali besar beberapa dasa
warsa yang lalu, walau bangunan-bangunan menjulang
tetap terlihat ramah lingkungan |
|
|
| Batas
antara Menteng dan Niew Gondangdia adalah kanal drainase yang
diapit oleh sekarang Jalan Sutan Syahrir dan Jalan M Yamin.
Rancangan rinci Menteng dilakukan Kubatz, sementara Niew Gondangdia
oleh Moojen sendiri. Yang menjadikan acuan bersama kedua arsitek
itu dan yang menyatukan kedua bagian kawasan baru itu adalah
Jalan Teuku Umar yang membentuk aksis utara-selatan yang sangat
kuat. Ketika berkunjung pada tahun 1931, Berlage, arsitek Belanda
yang paling terkenal, memberi komentar: 'tampillah suatu keseluruhan
menyatu yang menarik". |
| Dua
bangunan yang sangat indah dan penting sampai sekarang menandai
ujung utara aksis tersebut: kantor de Bouwploeg itu sendiri,
yang sekarang menjadi Masjid Cut Meutia, dan gedung kesenian
Nederlans-Indische Kunstkring yang sekarang bermasalah sebagai
bekas gedung imigrasi Jakarta Pusat. Jelas sekali pentingnya
kedua bangunan bersejarah itu sebagai penentu ciri dan karakter
keseluruhan kawasan Menteng sekarang sekalipun. Aksis ini diberi
hiasan berupa bundaran berikut air mancur di tengah-tengahnya.
Ujung selatannya adalah Taman Suropati yang dilengkapi dengan
bangunan yang cukup besar dan mengesankan sehingga sebanding
dengan kekuatan aksis itu sendiri, yaitu yang sekarang gedung
Bappenas. Sepanjang aksis ini berjejer kavling dan rumah-rumah
besar yang memperkuat statusnya. |
| Pada
Gondangdia Baru, Moojen merupa-rupa pertemuan-pertemuan jalan
yang tidak selalu perempatan. Ini dicapainya dengan menggariskan
jalan-jalan diagonal dan melengkung yang memotong atau menghentikan
jalan-jalan pararel pada arah utara-selatan. Hasilnya adalah
keragaman pertemuan jalan yang luar biasa - meskipun agak membingungkan
- beserta kavling-kavling sudutnya yang rupa-rupa, yang masing-masing
mempunyai hadapan berlainan. Taman Lembang merupakan keharusan
teknis (sebagai penampung air) yang berhasil digubah menjadi
taman lingkungan yang sampai sekarang boleh dibilang paling
indah dan fungsional. |
| Rancangan
Kubatz relatif lebih "berdisiplin". Satu bulevard timur-barat
(Jalan Imam Bonjol - Diponegoro sekarang) ditambahkan sebagai
aksis lagi, dan memotong aksis Teuku Umar di Taman Suropati.
Yang juga menonjol pada rancangan Kubatz ini adalah diperkenalkannya
ruang-ruang terbuka semi-publik di tengah-tengah blok-blok besar
sehingga membentuk lingkungan-lingkungan sekunder yang berbeda.
Tipe baru rumah pun muncul: bangunan dua lantai. Umumnya rumah-rumah
ini berbentuk bungalow atau vila yang dikelilingi halaman dan
memilki teras depan. Rumah-rumah yang besar lantainya berlapis
marmer dan jendelnya berkaca warna. Ciri bungalow berhalaman
keliling ini kini mulai rusak, misalnya di sepanjang Jalan Diponegoro,
di mana rumah-rumah baru dibangun seperti istana besar yang
tidak menyisakan ruang terbuka di samping dari bawah sampai
atas. |
|
| |
| <<
Sebelumnya |
Selanjutnya
>> |
|
 |