| JAKARTA
TEMPO DULU |
METROPOLITAN
WELTEVREDEN
(halaman 3 dari 5) |
 |
| Gedung Mahkamah Agung dalam gaya
klasisme |
|
|
|
| Sementara
itu, di seberang Mahkamah Agung, di Jl. Budi Utomo pada 1848
dibangun tempat pertemuan yang kini dipakai Kimia Farma. Tempat
pertemuan ini pada 1925 dipindah ke gedung baru yang kini dipakai
Bappenas di Taman Suropati. Beberapa meter lebih jauh, di pojokan
Jl. Gedung Kesenian dan Jl. Pos berdiri Gedung Kesenian Jakarta.
Gedung ini didirikan pada 1821. |
|
|
|
 |
| Stadsschouwburg
kini Gedung Kesenian Jakarta |
|
 |
| Gedung tempat bertemunya anggota-anggota
perkumpulan rahasia Vrijmetzlarij 'de Ster van
het Oosten, sekarnag Gedung Kimia Farma |
|
|
|
| Gedung
yang pada masa penjajahan Belanda disebut Stadtsschouwburg (teater
kota) ini dikenal juga sebagai Gedung Komidi. Sejarah gedung
yang berpenampilan mewah ini pernah digunakan untuk Kongres
Pemoeda yang pertama (1926). Dan, di gedung ini pula pada 29
Agustus 1945, Presiden RI I Ir. Soekarno meresmikan Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP) dan kemudian beberapa kali bersidang
di gedung ini pula. Pada masa penjajahan Jepang nama gedung
ini diganti menjadi Kiritsu Gekitzyoo, dipakai sebagai markas
tentara. Pada tahun 50-an, gedung ini sempat dipakai sebagai
ruang kuliah malam Universitas Indonesia. Dan, antara tahun
1968 hingga 1984 digunakan sebagai bioskop dengan nama Bioskop
Dana dan kemudian menjadi City Theatre. Dan, setelah dikeluarkannya
SK Gubernur KDKI Jakarta No. 24/1984, maka bangunan kuno ini
dipugar dan dikembalikan ke fungsi semula sebagai pentas kesenian
serta ditetapkan namanya menjadi Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).
|
| Di
sekitar Lapangan Monumen Nasional, di Jl. Medan Merdeka
Barat, terdapat Museum Nasional, kerap lebih dikenal sebagai
Museum Gajah. Museum ini didirikan oleh Lembaga Kesenian
dan Pengetahuan Batavia (Het Bataviaasch Genootschap van
Kunsten en Wetenschappen) yang sangat tersohor dan diduga
merupakan lembaga ilmiah tertua di Asia. |
|
|
| Gedung Gajah (Museum Nasional)di
Koningsplein West (Jl. Medan Merdeka Barat) tahun
1868 |
|
|
| Museum
ini menyimpan tidak kurang dari 109.342 koleksi yang berasal
dari berbagai kurun. Untuk koleksi zaman neolitik dipamerkan
di Ruang Koleksi Pra-Sejarah. Koleksi zaman batu muda itu antara
lain, kapak batu persegi yang ditemukan di Sunter dan Kebayoran
(No. 2380; 2494;4290); sebuah beliung dari batu akik (No. 4180),
mangkuk terakota dari India Selatan yang ditemukan di Buni dekat
Babelan (abad ke-2 SM; No. 7049); sebuah ujung tombak dari masa
perunggu-besi yang ditemukan di Lenteng Agung (No. 4545); dan
alat-alat logam lainnya yang antara lain ditemukan di Kelapa
Dua, Tanjung Barat, Pasar Minggu dan Jatinegara. Semua benda
yang ditemukan pada lokasi yang sekarang menjadi bagian wilayah
DKI Jakarta ini membuktikan bahwa wilayah Jakarta saat ini sudah
dihuni orang pada zaman neolitikum. Masa ini berlangsung sejak
abad ke 15 SM. |

|
| Dua patung
Dewa Vishnu yang bertangan empat, digali dekat Cibuaya
di sebelah utara Karawang (1952 dan 1957). Patung-patung
ini menunjukan pengaruh gayaGupta dan Palava dari
India selatan abad ke 7 dan ke 9 |
|
|
 |
| Patung
ini terbuat dari batu basal yang tidak terdapat
di Indonesia |
|
|
| Benda
tua lainnya yang menjadi koleksi Museum ini berasal dari abad
ke-5, yakni Prasasti Tugu (No. D 214) dengan pahatan huruf-huruf
Palawa yang cukup jelas. Hampir semasa dengan prasasti tersebut
adalah dua patung Vishnu yang dipamerkan dalam ruang dekat pintu
masuk. Boleh jadi, kedua arca ini merupakan arca tertua jenis
itu di seluruh Jawa. Kedua arca ini ditemukan di Cibuaya, sebelah
utara Karawang. Dari tahun-tahun terakhir zaman Hindu Sunda
Kalapa (nama pertama untuk Jakarta), terdapat batu Padrao, yang
berasal dari abad ke-16. Batu ini dipamerkan di sayap selatan
gedung utama. Para pelaut Portugis menancapkannya untuk memperingati
perjanjian persahabatan antara Kerajaan Pajajaran dan Portugal
pada th 1522. |
| Salah
satu bagian yang kerap membuat kita berdegup adalah koleksi
perhiasan emas berlian yang dipadukan dengan bebatuan yang terkenal
mahal harganya, sisa peninggalan abad ke-5 hingga ke-15 ketika
bangsa-bangsa maju di Asia kala itu, terutama India dan Cina
melakukan banyak perjalanan perdagangan ke negeri ini. Terdapat
pula singgasana emas para raja dan berbagai perabotan milik
para bangsawan. Koleksi emas berlian itu disimpan di ruang khusus
yang selalu dijaga petugas keamanan. Penjagaan ini mulai diperketat
sejak koleksi Museum ini digasak oleh Kusni-Kasdut serta penggasak
lainnya yang antara lain menguapkan dua puluh benda koleksi
keramik Tionghoa yang nilainya sangat mahal sekali. Namun kemudian,
pada sekitar tahun 1996 sejumlah lukisan berharga tinggi koleksi
Museum Nasional ini diboyong ke Singapura untuk dilelang. Dan,
hasil lelangnya kemana, sampai saat ini tidak ada catatan untuk
hal itu. |
| |
|
| <<
Sebelumnya |
Selanjutnya
>> |