|
|
 |
| JAKARTA
TEMPO DULU |
METROPOLITAN
WELTEVREDEN
(halaman 2 dari 5) |
| Pemilik
berikutnya, Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1704-1761),
membangun rumah mewah di tikungan Ciliwung. Mossel juga
menggali Kali Lio untuk memudahkan sekoci kecil mengangkut
kebutuhan pasar. Pada 1767, rumah Weltevreden dibeli Gubernur
Jenderal van der Parra. Kala itu, sebuah kampung di sekitar
pasar telah terbentuk. Namun, tanah itu kemudian dijual
lagi pada gubernur jenderal VOC terakhir, van Overstraten.
Sejak masa itu, Weltevreden menjadi kedudukan resmi gubernur
jenderal dan pemerintahannya. Di samping itu, markas militer
akan dibangun pula di kawasan ini. Inilah langkah penting
dalam pengembangan kota Jakarta selanjutnya. |
|
|

Kereta dan kuda berdatangan di pesta di Waterlooplein
(Lapangan Banteng) |
|
|
Daerah
sekitar Istana Weltevreden (di sekeliling Pasar
Senen dan Lapangan Banteng sekarang) pada awal abad ke-19
sudah menggantikan kota sebagai pusat militer dan pemerintahan.
Karena itu, makin banyaklah orang meninggalkan kota yang
mulai tidak sehat itu, akibat tertimbunnya kali dengan
lumpur, pendangkalan karena pembuangan kotoran, sampah
serta ampas tebu serta oleh pasir Gunung Salak setelah
ledakannya pada 1699 serta oleh salah urus, misalnya akibat
penggalian Mookervaart (kini Kali Pesing). |
|
| Tak
lama setelah Overstraten memutuskan untuk membangun markas
militer baru, dua belas batalion Prancis tiba dari Pulau
Mauritius. Para tentara ini ditempatkan di daerah antara
Jl. Dr. Wahidin dan Kali Lio. Sampai beberapa tahun yang
lalu, daerah bekas Jl. Siliwangi I - V masih merupakan
daerah perumahan personel militer. Dan, sejak abad ke-18
selalu terdapat tangsi-tangsi di sekitar Lapangan Banteng
(kini tinggal markas Korps Komando (KKO) Marinir; Brimob
dan RSPAD). Sejak saat inilah Lapangan Banteng disebut
Paradeplaats, yakni lapangan untuk mengadakan parade.
|
|

Waterlooplein yang disebut pula Lapangan
Singa (sekarang Lapangan Banteng). Di depan bangunan
yang disebut istana Daendels (kini Departemen Keuangan)
terdapat tiang yag puncaknya bertengger patung singa.
|
|
|
| Pada
awal pemerintahan Daendels (1809), ia telah mulai membangun
sebuah istana yang besar dan megah di lapangan banteng dan kini
dipakai Departemen Keuangan. Daendels bermaksud menjadikan istana
ini sebagai pusat ibukota barunya di Weltevreden. Istana dirancang
oleh Kolonel J.C.Schultze. Adapun bahan bangunannya diambil
dari benteng lama atau Kasteel Batavia yang mulai dirobohkan
pada 1809. Namun, bangunan ini baru dapat diselesaikan pada
1826 dan 1828 oleh Insinyur Tromp atas perintah Pejabat Gubernur
Jenderal Du Bus de Ghisignies. Di sebelah utara istana didirikan
gedung Hoogeregtshof (Mahkamah Agung). |

|
Herman Willem Daendels
(1762 - 1818). Revolusioner Belanda, Jendral Prancis dan
gubernur di Muenster (Jerman), diangkat menjadi
Marsekal Belanda waktu ditetapkan sebagai gubernur jendral
Hindia Belanda pada tahun 1807. Ia membongkar banyak gedung
masa VOC di kota dan menetapkan Weltevreden (sekarang
Senen, Pejambon) sebagai daerah pemerintahan yang baru.
Karena perlakuan kasarnya, ia mempunyai banyak musuh yang
menuduhnya korupsi.Ia meninggal sebagai gubernur jendral
Belanda 1818 di Elima (Guinea, Afrika) |
|
| Pada
1828 pula, di tengah lapangan banteng didirikan Monumen Pertempuran
Waterloo (Belgia), tempat dimana Napoleon mendapatkan kekalahan
secara definitif. Dan karena itu pula, lapangan di sekitarnya
mendapat nama Waterlooplein (Lapangan Waterloo). Selama abad
ke-19, lapangan Waterloo merupakan pusat kehidupan sosial. Orang-orang
Batavia pada sore hari berkumpul dengan menunggang kuda atau
kerata untuk saling bertemu. |
|
| Koningsplein
(Lapangan Monas) saat rencana Silang Monas pertama
dicetuskan tahun 1892 |
|
|
Untuk latihan
militernya, Daendels mengalokasikannya di lapangan Buffelsveld
(lapangan kerbau) yang kini menjadi Lapangan Monumen Nasional.
Kala itu, mereka menyebutnya sebagai Champs de Mars. Sesudah
masa kuasa sementara Inggris, lapangan itu diberi nama
baru lagi (1818), yakni Koningsplein (Lapangan Raja),
karena gubernur jenderal mulai tinggal di Istana Merdeka
(sekarang). |
|
| Tentang
Istana Merdeka ini sebetulnya masih relatif lebih muda
dibanding Istana Negara yang terletak di kawasan yang
sama tetapi menghadap Jl. Veteran. Gedung Istana Negara
dibangun untuk J.A. van Braam pada tahun 1796 sebagai
rumah peristirahatan luar kota kala itu. Kala itu, kawasan
ini merupakan lokasi paling bergengsi di Batavia Baru.
Selain itu, di kawasan ini juga terdapat kediaman Pieter
Tency (1794). Gedung ini sempat menjadi Hotel der Nederlanden,
pada masa Raffles gedung menjadi Raffles House, kemudian
menjadi Hotel Dharma Nirmala, dan kini setelah dibongkar
dibangun gedung Bina Graha. |
|
 |
| Istana gubernur jendral
(1879) yang sekarang disebut istana merdeka |
|
|
| Pada
tahun 1820 rumah peristirahatan van Braam ini disewa dan kemudian
dibeli (1821) oleh pemerintah kolonial untuk dijadikan tempat
kediaman gubernur jenderal bila berurusan di Batavia. Sebab,
kediaman resminya adalah Istana Bogor. Rumah van Braam atau
Istana Rijswijk (namun resminya disebut Hotel van den Gouverneur-Generaal,
untuk menghindari kata Istana), dipilih untuk kepala koloni,
karena istana Daendels di Lapangan Banteng belum selesai. Dan,
setelah diselesaikan pun gedung itu hanya dipergunakan untuk
kantor-kantor pemerintah saja. |
| Pada
abad ke-19 dan selama bagian pertama abad-20, gubernur jenderal
kebanyakan tinggal di Istana Bogor yang lebih sejuk. Tetapi,
kadang-kadang harus turun ke Batavia, khususnya untuk pertemuan
Dewan Hindia, yang pada abad ke-19 dan ke-20 bersidang di Istana
Negara setiap hari Rabu. Dan, baru pada abad ke-19, karena Istana
Rijswijk dianggap mulai terasa sesak, dibangunlah istana baru
pada kaveling yang sama, khususnya untuk berbagai upacara resmi
yang dihadiri banyak orang. Istana tambahan ini menghadap ke
Lapangan Merdeka. |
| Di
depan istana baru ini dalam suatu upacara yang mengharukan pada
tanggal 27 Desember 1949 bendera Belanda diturunkan dan Dwikora
Indonesia dinaikkan ke langit biru. Pada hari itu, ratusan ribu
orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung ini dengan
diam mematung. Mata mereka terpaku pada tiang bendera dan tanpa
malu-malu meneteskan air mata. Tetapi, ketika Sang Merah-Putih
menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan mereka
dan terdengar teriakan: Merdeka! Merdeka! Oleh karena itu diputuskanlah
menamai gedung ini Istana Merdeka. |
| Pengakuan
atas Kemerdekaan Indonesia ditandatangani di gedung ini pada
tahun 1949 oleh Sultan Hamengkubuwono IX dan wakil Ratu Belanda
A.H.J. Lovink. Dan, dengan demikian, berakhirlah Perang Kemerdekaan
(1945-1949). |
| |
| <<
Sebelumnya |
Selanjutnya
>> |
|
 |