|
|
 |
| JAKARTA
TEMPO DULU |
METROPOLITAN
WELTEVREDEN
(halaman 1 dari 5) |
| Pada
tahun 1648, pemerintah kolonian Hindia Belanda memberikan
tanah yang kini menjadi pusat kota Jakarta pada Anthonij
Paviljoun. Dan kemudian, pada 1657, sebuah benteng kecil
yang disebut Noordwijk didirikan di kawasan yang kini
letaknya tidak jauh dari Jl. Pintu Air Raya dan pekarangan
Masjid Istiqlal. Keberadaan benteng ini dimaksudkan untuk
mengantisipasi sisa-sisa tentara Mataram dan patroli tentara
Banten yang masih cukup banyak kala itu. |
|
|

Weltevreden, gedung megah tempat peristirahatan
Daendels di kawasan yang kini ditempati RSPAD Gatot
Subroto. |
|
|
Pemilik tanah
Paviljoen berikutnya adalah Cornelis Chastelein, seorang
anggota Dewan Hindia (1693). Ia membeli banyak budak dari
raja-raja Bali untuk membuka persawahan. Chastelein, termasuk
orang pertama di Indonesia yang berusaha mengembangkan
sebuah perkebunan kopi di tengah-tengah kota Jakarta saat
ini. Rumah-rumah persitirahatan kecil, yang terletak di
tanah yang kini dipakai oleh Rumahsakit Pusat Angkatan
Darat, dinamainya Weltevreden (Benar-benar puas). Nama
ini kemudian diberikan kepada hampir seluruh daerah Jakarta
Pusat sekarang sampai masa Pendudukan Jepang (1942). |
|
| Pada
1733, Justinus Vinck membeli tanah luas Weltevreden dan
membuka dua pasar besar, yakni Pasar Senen dan pasar Tanah
Abang. Pada tahun 1735, ia menghubungkan kedua pasar tersebut
dengan sebuah jalan, yang sekarang disebut Jl. Prapatan
dan Jl. Kebon Sirih yang juga merupakan jalur penghubung
timur-barat pertama di Jakarta Pusat kini. |
|
 |
| Salah satu rumah bergaya Indish
di Jl. Prapatan |
|
|
 |
| Lokasi pasar Senen yang kini lebih
dikenal dengan sebutan Segi Tiga Senen |
|
|
|
| Pasar Tanah Abang West (1867).
Semula pasar berada di selatannya, lalu meluas sampai
ke sini. |
|
|
| |
| Selanjutnya
>> |
|
 |