|
|
 |
| JAKARTA TEMPO DULU |
OUD BATAVIA
(halaman 3 dari 3) |
| Namun,
pada akhir abad ke-18, citra Ratu Timur itu menurun drastis.
Willard A. Hanna (Hikayat Jakarta) mencatat, bahwa kejadian
itu diawali oleh gempa bumi yang bukan main dahsyatnya,
malam tanggal 4 dan 5 November 1699, yang menyebabkan
kerusakan besar pada gedung-gedung dan mengacaukan persediaan
air dan memporak-porandakan sistem pengaliran air di seluruh
daerah. Gempa itu disertai letusan-letusan gunung api
dan hujan abu yang tebal, yang menyebabkan terusan-terusan
menjadi penuh lumpur. Aliran sungai Ciliwung berubah dan
membawa sekian banyak endapan ke tempat dimana sungai
itu mengalir ke laut, sehingga kastil yang semula berbatasan
dengan laut, seakan-akan mundur sedikit-dikitnya 1 kilometer
ke arah pedalaman. |
|
|
|
| Sebagian untuk
menanggulangi masalah-masalah penyaluran air dan sebagian pula
untuk membuka daerah baru di pinggiran kota, pihak berwajib
telah mengubah sistem terusan yang ada secara besar-besaran.
Pembukaan terusan baru yang penting tepat di sebelah selatan
kota pada tahun 1732, jatuh bersamaan waktunya dengan wabah
besar pertama suatu penyakit, yang sekarang diduga adalah malaria,
suatu bencana baru bagi penduduk kota, yang berulang kali menderita
disentri dan kolera (pada zaman itu belum diketahui, setidaknya
di Batavia, bahwa kuman dalam air akan mati kalau air dimasak
sampai mendidih, namun menurut de Haan penduduk Banjarmasin
pada 1661 dan Ambon akhir abad ke-17 sudah memasak air untuk
membunuh bakteri, walaupun binatang ini belum dikenal. Sejak
1744 pasien di rumah sakit diberi teh dan kopi, karena air putih
sudah tercemar. Pada tahun 1753 Gubernur Jenderal Mossel atas
nasehat seorang dokter menganjurkan supaya air kali dipindahkan
dari tempayan ke tempayan dengan membiarkan kotorannya mengendap
sampai tampak bersih. Lalu tidak usah dimasak. Sampai akhir
abad ke-19 banyak orang tak peduli dan minum air Ciliwung begitu
saja). |
| Hampir tidak dapat
dibayangkan betapa tidak sehatnya daerah kota dan sekitarnya
pada abad ke-18. Orang-orang kaya memang mampu meninggalkan
rumah mereka di Jl. Pangeran Jayawikarta (Jayakarta) dan pindah
ke selatan, ke kawasan Jl. Gajah Mada dan Lapangan Banteng sekarang.
Tetapi tidak demikian halnya dengan orang miskin, sehingga bahkan
tidak mampu lagi untuk dikubur secara layak. Dan, mereka pun
kemudian dikubur di pekuburan budak-belian, di lokasi yang kini
menjadi tempat langsir Stasiun Kota di sebelah utara Geraja
Sion. Karena itu pula, Batavia di akhir abad ke-18 mendapat
julukan baru sebagai Het Graf der Hollander (kuburan orang Belanda).
|

|
Rumah Koppel yang disebut
Toko Merah, karena balok, kusen dan papan dinding di dalamnya
di cat merah. Rumah ini dibangun tahun 1730 oleh G. Von
Imhoff sebelum ia menjabat gubernur jendral. Kini rumah
tersebut dipelihara dengan baik dan digunakan PT Dharma
Niaga. |
|
| Akibat berikutnya,
sesudah 1798, banyak gedung besar di dalam kota juga kampung
lama para Mardijker yang digunakan sebagai 'tambang batu' untuk
membangun rumah baru di daerah yang letaknya lebih selatan.
'Tambang batu' ini terjadi karena begitu banyak orang susah
mendapatkan makanan dan karena wilayah di selatan kota tengah
dibangun, maka orang-orang miskin kala itu banyak yang menggugurkan
rumahnya dan menjual bebatuannya untuk memperoleh makanan. Dan,
John Crawfurd dalam bukunya Descriptive Dictionary of the Indian
Islands and Adjacent Countries (London, 1856) menuliskan: "Orang
Belanda tidak memperhatikan perbedaan sekitar empat puluh lima
derajat garis lintang, waktu mereka membangun sebuah kota menurut
model kota-kota Belanda. Apalagi kota ini didirikan pada garis
lintang enam derajat dari khatulistiwa dan hampir pada permukaan
laut. Sungai Ciliwung yang dialirkan melalui seluruh kota dengan
kali-kali yang bagus, tak lagi mengalir karena penuh endapan.
Keadaan ini menimbulkan wabah malaria, yang terbawa oleh angin
darat bahkan ke jalan-jalan di luar kota. Akibatnya, meluaslah
penyakit demam yang mematikan. Keadaan ini diperparah - delapan
puluh tahun sesudah Batavia didirikan - oleh serentetan gempa
bumi hebat yang berlangsung pada tanggal 4 dan 5 November 1699.
gempa tersebut menyebabkan terjadinya longsoran gunung, tempat
pangkal sumber air ini. Aliran airnya terpaksa mencari jalan
baru dan banyak lumpur terbawa arus. Tak pelak lagi, kali-kali
di Batavia, bahkan tanggul-tanggulnya, penuh dengan lumpur. |
 |
"Groote Huis" atau istana Daendels di dekat Lapangan Banteng.
|
|
| Penanggulangan
keadaan buruk itu baru dilaksanakan waktu pemerintahan Marsekal
Daendels pada zaman Prancis tahun 1809 (zaman Prancis sesungguhnya
hanya berlangsung dari bulan Februari sampai Agustus 1811).
Penanggulangan tersebut diteruskan sampai pada 1817 di bawah
pemerintahan Belanda yang ditegakkan kembali. Banyak kali ditimbun
dan kiri-kanan sungai dibentengi tanggul sampai sejauh satu
mil masuk teluk. Operasi yang dilanjutkan oleh para insinyur
yang cakap, berhasil menormalkan arus sungai tersebut. Sesudahnya
Batavia tidak kurang sehat daripada kota pantai tropis manapun.
Bagian kota yang baru atau pinggiran kota tidak pernah mempunyai
reputasi jelek." |
| Sementara itu,
pada 9 Mei 1821 Bataviasche Courant melaporkan, bahwa 158 orang
meninggal akibat kolera di kota dan tiga hari kemudian 733 korban
lagi di seluruh wilayah Batavia. Rumah sakit masih sangat jelek
dan hanya orang-orang yang sangat kuat saja yang dapat meninggalkan
bangsal rumah sakit dalam keadaan hidup. |
| Tragedi ini menjadi
akhir kisah Oud Batavia dan menjadi awal pembentukan Niew Batavia
(Batavia Baru) di tanah Weltevreden (sekitar Gambir sekarang
ini). Inilah tragedi mengerikan tentang sebuah kota akibat kegagalan
penduduknya dalam mengelola lingkungan hidup. Akankah tragedi
ini terulang? Semua bergantung pada kearifan kita dalam memahami
alam lingkungan yang serba terbatas di hadapan nafsu manusia
yang kerap melampaui batas sewajarnya. |
| |
| <<
Sebelumnya |
|
|
 |