Beranda Profil Berita Forum Peta Situs Hubungi Kami Cari Informasi  
 
CARI
PROFIL
Visi dan Misi
Tupoksi
Struktur Organisasi
Pimpinan
PRODUK
Perencanaan
Mekanisme
Jangka Pendek
  RKPD
Jangka Menengah
  POLA DASAR 2002 - 2007
  PROPEDA 2002 - 2007
  RENSTRADA 2002-2007
 
Jangka Panjang
  RTRW
  RUPE
  RUPSB
  RPJP
Pengendalian
  Pemantauan
  Evaluasi
Pengkajian & Pengembangan
  Hasil Penelitian
Pustaka
SEKILAS JAKARTA
Jakarta Tempo Dulu
Jakarta Kini
Jakarta Masa Depan
LINK TERKAIT
Bapekodya Jakarta Pusat
Bapekodya Jakarta Utara
Bapekodya Jakarta Barat
Bapekodya Jakarta Selatan
Bapekodya Jakarta Timur
Bapekab Kepulauan Seribu
Bappenas
PROGRAM DEDICATED
Dedicated 2005
Dedicated 2006
Dedicated 2007
KONSEP
Pengendalian Banjir
Transportasi
Sampah
Pemukiman
JAKARTA TEMPO DULU
OUD BATAVIA
(halaman 1 dari 3)

Lukisan Galangan Kapal dari tahun 1727 oleh B.D. Vonk. Beberapa bagian dari bangunan-bangunan ini masih digunakan sampai hari ini, meskipun kurang terawat.
Link Terkait
Jayakarta
STAD Batavia
Metropolitan Weltevreden
Masyarakat Betawi
Ibukota Republik Indonesia
Kota Batavia lama (oud Batavia) wilayahnya tidaklah begitu luas. Dahulu, kota dikelilingi tembok dan parit. Luasnya dari daerah sekitar Menara Syahbandar di Pasar Ikan sampai Jl. Asemka - Jl. Jembatan Batu sekarang. Rencana kota Batavia ini dirancang oleh Simon Stevin atas permintaan dewan pemerintah VOC di Belanda (1618). Dalam benak JP. Coen, Batavia akan dijadikan ibukota suatu kerajaan perdagangan raksasa dari Tanjung Harapan sampai Jepang dengan orang Belanda yang memonopolinya. Ia juga memerintahkan untuk membangun Galangan Kapal dan rumah sakit, berbagai rumah penginapan dan toko (di P.Ontrust), dua buah gereja (di dalam dan di luar benteng) dan sebuah sekolah (tidak jelas lokasinya).
Lokasi pasar Senen yang kini lebih dikenal dengan sebutan Segi Tiga Senen
Pasar Tanah Abang West (1867). Semula pasar berada di selatannya, lalu meluas sampai ke sini.
Adapun pusat kotanya adalah bekas Balai Kota, kini Museum Sejarah. Bangunan bertingkat dua yang menjadi pusat kota lama itu diselesaikan pada 1712. Namun, dua tahun sebelumnya telah diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck (1653-1713). Tentang bangunan itu sendiri sebetulnya merupakan Balaikota kedua dari Balikota pertama yang lebih kecil serta sederhana dan didirikan pada 1620 serta hanya bertahan selama beberapa tahun.

Museum Sejarah Jakarta, bekas Balai Kota Batavia (1710-1925) di tengah-tengah Kota merupakan gedung terpenting dari zaman Kompeni yang digunakan sebagai pengadilan, kantor admnistrasi kota sekaligus penjara. Sejak tahun 1974 digunakan sebagai museum untuk benda-benda sejarah Jakarta.
Pada awalnya kegiatan-kegiatan di dalam Balaikota selain mengurus masalah pemerintahan juga mengurus masalah perkawinan, peradilan dan perdagangan sehingga dahulu masyarakat mengenalnya sebagai "Gedung Bicara". Kemudian, Balaikota ini juga menjadi penjara yang sangat menyeramkan di samping juga digunakan sebagai pusat milisi atau schutterij dari tahun 1620 sampai 1815. Komandannya adalah ketua Dewan Kotapraja. Milisi terdiri dari jurutulis dan warga kota Belanda lain, orang Mardijker dan kompi-kompi pribumi dari suku yang berbeda. Terdapat antara lain, milisi orang Jawa, orang Bugis, orang Melayu dan orang Bali. Pos komando milisi itu ada di dalam Balaikota, dan lapangan di muka digunakan sebagai tempat latihan. Pada bulan Agustus 1816 Balai Kota menjadi tempat peristiwa bersejarah: Sir John Fendall mengembalikan Hindia kepada Belanda, sehingga berakhirlah pemerintahan sementara Inggris (1811-1816). Pada tahun 1925 gedung Balaikota ini menjadi kantor pemerintahan Propinsi Jawa Barat sampai Perang Dunia II. Pemerintah kotapraja Batavia pindah ke tempatnya sekarang di Medan Merdeka Selatan di samping gedung bertingkat Pemerintah DKI Jakarta sekarang.
Seusai Perang Dunia II, gedung Balai Kota itu dipakai sebagai markas tentara (Kodim 0503). Sewaktu Ali Sadikin menjadi gubernur, gedung dipugar dengan sangat baik, dan sejak 1974 menjadi Museum Sejarah Jakarta.

Salah satu sel dalam penjara kuno di bawah lantai pertama Balai Kota. Hampir tidak ada ventilasi di tempat penahanan bawah tanah yang lembab dan penuh sesak dengan para tawanan ini.
Sementara itu, bentuk kota Batavia awal direncanakan sesuai dengan kebiasaan Belanda, dengan jalan-jalan lurus dan parit-parit. Pengembangan kota ini pun tidak surut walaupun pada tahun 1627 dan 1629 kota Batavia dikurung tentara Mataram.

Rumah Indisch. dulu kediaman resmi residen Batavia, kini Balai Kota Jakarta di Jl. Merdeka Selatan 8.
 
Selanjutnya >>
kembali ke atas