
|
| Lukisan Galangan
Kapal dari tahun 1727 oleh B.D. Vonk. Beberapa
bagian dari bangunan-bangunan ini masih digunakan
sampai hari ini, meskipun kurang terawat. |
|
|
|
|
| Kota
Batavia lama (oud Batavia) wilayahnya tidaklah begitu
luas. Dahulu, kota dikelilingi tembok dan parit. Luasnya
dari daerah sekitar Menara Syahbandar di Pasar Ikan sampai
Jl. Asemka - Jl. Jembatan Batu sekarang. Rencana kota
Batavia ini dirancang oleh Simon Stevin atas permintaan
dewan pemerintah VOC di Belanda (1618). Dalam benak JP.
Coen, Batavia akan dijadikan ibukota suatu kerajaan perdagangan
raksasa dari Tanjung Harapan sampai Jepang dengan orang
Belanda yang memonopolinya. Ia juga memerintahkan untuk
membangun Galangan Kapal dan rumah sakit, berbagai rumah
penginapan dan toko (di P.Ontrust), dua buah gereja (di
dalam dan di luar benteng) dan sebuah sekolah (tidak jelas
lokasinya). |
 |
| Lokasi pasar
Senen yang kini lebih dikenal dengan sebutan
Segi Tiga Senen |
|
|
|
| Pasar Tanah
Abang West (1867). Semula pasar berada di
selatannya, lalu meluas sampai ke sini. |
|
|
| Adapun pusat
kotanya adalah bekas Balai Kota, kini Museum Sejarah.
Bangunan bertingkat dua yang menjadi pusat kota lama itu
diselesaikan pada 1712. Namun, dua tahun sebelumnya telah
diresmikan oleh Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck
(1653-1713). Tentang bangunan itu sendiri sebetulnya merupakan
Balaikota kedua dari Balikota pertama yang lebih kecil
serta sederhana dan didirikan pada 1620 serta hanya bertahan
selama beberapa tahun. |

|
Museum Sejarah Jakarta,
bekas Balai Kota Batavia (1710-1925) di tengah-tengah
Kota merupakan gedung terpenting dari zaman Kompeni
yang digunakan sebagai pengadilan, kantor admnistrasi
kota sekaligus penjara. Sejak tahun 1974 digunakan
sebagai museum untuk benda-benda sejarah Jakarta.
|
|
| Pada awalnya
kegiatan-kegiatan di dalam Balaikota selain mengurus masalah
pemerintahan juga mengurus masalah perkawinan, peradilan
dan perdagangan sehingga dahulu masyarakat mengenalnya
sebagai "Gedung Bicara". Kemudian, Balaikota ini juga
menjadi penjara yang sangat menyeramkan di samping juga
digunakan sebagai pusat milisi atau schutterij dari tahun
1620 sampai 1815. Komandannya adalah ketua Dewan Kotapraja.
Milisi terdiri dari jurutulis dan warga kota Belanda lain,
orang Mardijker dan kompi-kompi pribumi dari suku yang
berbeda. Terdapat antara lain, milisi orang Jawa, orang
Bugis, orang Melayu dan orang Bali. Pos komando milisi
itu ada di dalam Balaikota, dan lapangan di muka digunakan
sebagai tempat latihan. Pada bulan Agustus 1816 Balai
Kota menjadi tempat peristiwa bersejarah: Sir John Fendall
mengembalikan Hindia kepada Belanda, sehingga berakhirlah
pemerintahan sementara Inggris (1811-1816). Pada tahun
1925 gedung Balaikota ini menjadi kantor pemerintahan
Propinsi Jawa Barat sampai Perang Dunia II. Pemerintah
kotapraja Batavia pindah ke tempatnya sekarang di Medan
Merdeka Selatan di samping gedung bertingkat Pemerintah
DKI Jakarta sekarang. |
| Seusai Perang
Dunia II, gedung Balai Kota itu dipakai sebagai markas
tentara (Kodim 0503). Sewaktu Ali Sadikin menjadi gubernur,
gedung dipugar dengan sangat baik, dan sejak 1974 menjadi
Museum Sejarah Jakarta. |

|
Salah satu sel dalam
penjara kuno di bawah lantai pertama Balai Kota.
Hampir tidak ada ventilasi di tempat penahanan bawah
tanah yang lembab dan penuh sesak dengan para tawanan
ini. |
|
| Sementara
itu, bentuk kota Batavia awal direncanakan sesuai dengan
kebiasaan Belanda, dengan jalan-jalan lurus dan parit-parit.
Pengembangan kota ini pun tidak surut walaupun pada tahun
1627 dan 1629 kota Batavia dikurung tentara Mataram. |

|
Rumah Indisch. dulu
kediaman resmi residen Batavia, kini Balai Kota
Jakarta di Jl. Merdeka Selatan 8. |
|