Beranda Profil Berita Forum Peta Situs Hubungi Kami Cari Informasi  
 
CARI
PROFIL
Visi dan Misi
Tupoksi
Struktur Organisasi
Pimpinan
PRODUK
Perencanaan
Mekanisme
Jangka Pendek
  RKPD
Jangka Menengah
  POLA DASAR 2002 - 2007
  PROPEDA 2002 - 2007
  RENSTRADA 2002-2007
 
Jangka Panjang
  RTRW
  RUPE
  RUPSB
  RPJP
Pengendalian
  Pemantauan
  Evaluasi
Pengkajian & Pengembangan
  Hasil Penelitian
Pustaka
SEKILAS JAKARTA
Jakarta Tempo Dulu
Jakarta Kini
Jakarta Masa Depan
LINK TERKAIT
Bapekodya Jakarta Pusat
Bapekodya Jakarta Utara
Bapekodya Jakarta Barat
Bapekodya Jakarta Selatan
Bapekodya Jakarta Timur
Bapekab Kepulauan Seribu
Bappenas
PROGRAM DEDICATED
Dedicated 2005
Dedicated 2006
Dedicated 2007
KONSEP
Pengendalian Banjir
Transportasi
Sampah
Pemukiman
JAKARTA TEMPO DULU
STAD BATAVIA
(halaman 2 dari 2)

Jan Pieterszoon Coen (1587-1629) dari kota Hoorn (Belanda), seorang akuntan sekaligus politikus hebat dan lawan yang tak kenal lelah dengan semboyan : Jangan Hilang Harapan!(Dispereetniet!) berencana menghancurkan Kayakarta dan mendirikan Batavia (1619).
 
Link Terkait
Jayakarta
OUD Batavia
Metropolitan Weltevreden
Masyarakat Betawi
Ibukota Republik Indonesia
Di tangan Jan Pieterszoon Coen (1587-1629), Nassau Huis (1610-1613), ditingkatkan kualitasnya dan bahkan ia juga membangun gedung kembarannya, Mauritius Huis (1617-1623). Antara kedua gedung ini kemudian dibangun sebuah tembok batu, dan di atas tembok ini dideretkan beberapa buah meriam. Coen, juga memperbesar regu penjagaannya yang terdiri dari 25 orang menjadi 50 orang yang dipersenjatai secara kuat dengan senapan musket dan arquebuses. Bangunan-bangunan ini kemudian menjadi serupa benteng segi empat di tangan Piere de Carpentier, yang menjabat Gubernur Jenderal selama Coen bepergian ke Maluku mencari bantuan. Dinding-dindingnya, setinggi 6 - 7,5 meter, terbujur 150 meter sepanjang pinggir sungai dan sama panjangnya membujur ke pedalaman. Dinding-dinding ini berhadapan dengan tembok batu, sama halnya dengan tanggul-tanggul tanah liat yang letaknya agak kejauhan, yang kemudian akan menjadi dinding-dinding kota dengan di dalamnya dikenal sebagai Kasteel Jakatra (Kastil Jakarta).
Apa yang dilakukan Coen ini, makin mempertajam persaingannya dengan Inggris dan juga Jayakarta. Persaingan ini mencapai puncaknya pada Desember 1618. Dan, Pieter van den Broecke, komandan benteng Belanda pun ditangkap tentara Pangeran Jayawikarta yang kala itu dibantu armada Inggris pimpinan Sir Thomas Dale. Namun, pada bulan Februari 1619 Sultan Banten (Pangeran Rananenggala) yang adalah atasan Pangeran Jayawikarta menggeser (memecat) penguasa Jayakarta dan mengasingkannya ke Tanara (Citanara).
Tentu saja, orang Belanda merasa lega dan berusaha mengeratkan hubungan (sementara) dengan Banten. Garnisun benteng, yang terdiri dari orang Belanda dan sewaan Jepang, Jerman, Perancis, Skotia, Denmark dan Belgia merayakan perubahan situasi ini dengan pesta meriah. Mereka pun kemudian menamai benteng ini dengan Batavia (12 Maret 1619), untuk mengenang suku bangsa Germania, yang disebut C.J. Caesar, dalam bukunya Bellum Gallicum (50 SM), yaitu suku bangsa Batavir yang menghuni daerah di sekitar mulut Sungai Rhein. Suku Batavir, dianggap leluhur orang Belanda.
Dari benteng di tepi timur Ciliwung itu, tentara Belanda di bawah JP Coen menyerang dan menghancurkan kota serta kraton Jayakarta, pada 30 Mei 1619. Sejak itu pula, Belanda praktis menguasai bandar Jayakarta. Dan kemudian, VOC mendirikan Koninkrijk Jacatra (Kerajaan Jakarta, yang tidak lagi ada rajanya kecuali Coen).

Adapun nama Batavia untuk kasteel dan kota baru disahkan pada 1620, untuk kemudian dikukuhkanlah sebuah pemerintahan (Stad) Batavia pada 4 Maret 1621. Dan, sejak saat itu pula, Jayakarta disebut Batavia selama tiga ratus tahun lebih (1619-1942).

Kini, tiada satu pun yang tersisa dari Sunda Kelapa atau Jayakarta, kecuali namanya, batu padrao di Museum Nasional dan mungkin makam Pangeran Jayawikarta. Tentang situasi dan luas kota Jayakarta yang dihancurkan JP. Coen juga agak sulit ditentukan. Tetapi, menurut perkiraan, lokasi dan luasnya terentang di antara Jl. Tiang Bendera Raya, Kali Besar, Jl. Roa Malaka dan Jl. Semut - Penjaringan - Roa Malaka II. Pusat Jayakarta terletak di sebelah utara dan selatan Jl. Kopi di tepi Ciliwung atau kurang lebih seratus meter di sebelah barat-laut Balai Kota lama atau Museum Sejarah Jakarta sekarang. Penduduk Jayakarta kala itu, kurang lebih sepuluhribu orang, yang terdiri dari 'Orang Banten' (berasal dari Demak dan Cirebon) yang menggantikan orang Sunda, saudagar Arab dan Tionghoa. Dan, mereka ini, kecuali orang Tionghoa kemudian mengundurkan diri ke daerah Kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta.

Rekonstruksi letaknya kota Jayakartadan kastael Belanda tahun 1619menurut J.W. Ijzerman.
Tentang kota Batavia sendiri, selama rentang 1619-1627 mengalami percepatan pengembangan. Setelah memberikan nama Batavia, mereka pun membangun Kasteel baru yang berbentuk persegi empat dengan empat benteng menjulang berbentuk tajam yang diberi nama Parel, Diamant, Saphir, dan Robijn. Namun, tiada sedikit pun yang tersisa. Sebab bangunan itu dibongkar Gubernur Jenderal Daendels pada 1809 dan diratakan samasekali dengan tanah pada 1835. Hanya, nama populer "Kota Inten" sajalah yang masih mengingatkan akan salah satu kubu (1623) benteng Batavia kuno.
 
<< Sebelumnya
kembali ke atas