
|
Jan Pieterszoon
Coen (1587-1629) dari kota Hoorn (Belanda),
seorang akuntan sekaligus politikus hebat
dan lawan yang tak kenal lelah dengan semboyan
: Jangan Hilang Harapan!(Dispereetniet!) berencana
menghancurkan Kayakarta dan mendirikan Batavia
(1619). |
|
|
|
|
| Di tangan
Jan Pieterszoon Coen (1587-1629), Nassau Huis (1610-1613),
ditingkatkan kualitasnya dan bahkan ia juga membangun
gedung kembarannya, Mauritius Huis (1617-1623). Antara
kedua gedung ini kemudian dibangun sebuah tembok batu,
dan di atas tembok ini dideretkan beberapa buah meriam.
Coen, juga memperbesar regu penjagaannya yang terdiri
dari 25 orang menjadi 50 orang yang dipersenjatai secara
kuat dengan senapan musket dan arquebuses. Bangunan-bangunan
ini kemudian menjadi serupa benteng segi empat di tangan
Piere de Carpentier, yang menjabat Gubernur Jenderal selama
Coen bepergian ke Maluku mencari bantuan. Dinding-dindingnya,
setinggi 6 - 7,5 meter, terbujur 150 meter sepanjang pinggir
sungai dan sama panjangnya membujur ke pedalaman. Dinding-dinding
ini berhadapan dengan tembok batu, sama halnya dengan
tanggul-tanggul tanah liat yang letaknya agak kejauhan,
yang kemudian akan menjadi dinding-dinding kota dengan
di dalamnya dikenal sebagai Kasteel Jakatra (Kastil Jakarta).
|
| Apa yang
dilakukan Coen ini, makin mempertajam persaingannya dengan
Inggris dan juga Jayakarta. Persaingan ini mencapai puncaknya
pada Desember 1618. Dan, Pieter van den Broecke, komandan
benteng Belanda pun ditangkap tentara Pangeran Jayawikarta
yang kala itu dibantu armada Inggris pimpinan Sir Thomas
Dale. Namun, pada bulan Februari 1619 Sultan Banten (Pangeran
Rananenggala) yang adalah atasan Pangeran Jayawikarta
menggeser (memecat) penguasa Jayakarta dan mengasingkannya
ke Tanara (Citanara). |
| Tentu saja,
orang Belanda merasa lega dan berusaha mengeratkan hubungan
(sementara) dengan Banten. Garnisun benteng, yang terdiri
dari orang Belanda dan sewaan Jepang, Jerman, Perancis,
Skotia, Denmark dan Belgia merayakan perubahan situasi
ini dengan pesta meriah. Mereka pun kemudian menamai benteng
ini dengan Batavia (12 Maret 1619), untuk mengenang suku
bangsa Germania, yang disebut C.J. Caesar, dalam bukunya
Bellum Gallicum (50 SM), yaitu suku bangsa Batavir yang
menghuni daerah di sekitar mulut Sungai Rhein. Suku Batavir,
dianggap leluhur orang Belanda. |
| Dari
benteng di tepi timur Ciliwung itu, tentara Belanda
di bawah JP Coen menyerang dan menghancurkan kota
serta kraton Jayakarta, pada 30 Mei 1619. Sejak
itu pula, Belanda praktis menguasai bandar Jayakarta.
Dan kemudian, VOC mendirikan Koninkrijk Jacatra
(Kerajaan Jakarta, yang tidak lagi ada rajanya kecuali
Coen). |
|
Adapun nama Batavia untuk kasteel dan kota baru
disahkan pada 1620, untuk kemudian dikukuhkanlah
sebuah pemerintahan (Stad) Batavia pada 4 Maret
1621. Dan, sejak saat itu pula, Jayakarta disebut
Batavia selama tiga ratus tahun lebih (1619-1942).
Kini, tiada satu pun yang tersisa dari Sunda
Kelapa atau Jayakarta, kecuali namanya, batu padrao
di Museum Nasional dan mungkin makam Pangeran
Jayawikarta. Tentang situasi dan luas kota Jayakarta
yang dihancurkan JP. Coen juga agak sulit ditentukan.
Tetapi, menurut perkiraan, lokasi dan luasnya
terentang di antara Jl. Tiang Bendera Raya, Kali
Besar, Jl. Roa Malaka dan Jl. Semut - Penjaringan
- Roa Malaka II. Pusat Jayakarta terletak di sebelah
utara dan selatan Jl. Kopi di tepi Ciliwung atau
kurang lebih seratus meter di sebelah barat-laut
Balai Kota lama atau Museum Sejarah Jakarta sekarang.
Penduduk Jayakarta kala itu, kurang lebih sepuluhribu
orang, yang terdiri dari 'Orang Banten' (berasal
dari Demak dan Cirebon) yang menggantikan orang
Sunda, saudagar Arab dan Tionghoa. Dan, mereka
ini, kecuali orang Tionghoa kemudian mengundurkan
diri ke daerah Kesultanan Banten waktu Batavia
menggantikan Jayakarta.
|
|
 |
| Rekonstruksi letaknya kota
Jayakartadan kastael Belanda tahun 1619menurut
J.W. Ijzerman. |
|
|
| Tentang kota
Batavia sendiri, selama rentang 1619-1627 mengalami percepatan
pengembangan. Setelah memberikan nama Batavia, mereka
pun membangun Kasteel baru yang berbentuk persegi empat
dengan empat benteng menjulang berbentuk tajam yang diberi
nama Parel, Diamant, Saphir, dan Robijn. Namun, tiada
sedikit pun yang tersisa. Sebab bangunan itu dibongkar
Gubernur Jenderal Daendels pada 1809 dan diratakan samasekali
dengan tanah pada 1835. Hanya, nama populer "Kota Inten"
sajalah yang masih mengingatkan akan salah satu kubu (1623)
benteng Batavia kuno. |
|