|
|
 |
| JAKARTA
TEMPO DULU |
MENUJU JAYAKARTA
(halaman 2 dari 2) |
| Adalah
Tome Pires (The Suma Oriental), seorang musafir Portugis
yang mengunjungi Sunda Kelapa, menuliskan bahwa pelabuhan
ini telah dikunjungi kapal-kapal dari Palembang, Tanjungpura,
Malaka, Makasar, Madura dan juga pedagang-pedagang dari
India, Tiongkok Selatan dan kepulauan Ryuku (kini Jepang).
Pires yang datang bersama Enrique Leme, utusan Gubernur
Jenderal Portugis, d'Alboquerque, tiba di Sunda Kelapa
pada 1522. Kehadiran mereka ini memang telah ditunggu
Raja Sunda Samian atau Sangiang (Sang Hyang) Surawisesa
(1521-1535), yang ketika masih menjadi putra mahkota sempat
mengunjungi d'Alborquerque yang telah menguasai Malaka
sejak 1511. |
|
|
|
| Dan selanjutnya,
pada 21 Agustus 1522 disepakati sebuah perjanjian persahabatan
antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Portugal. Menurut A.Heuken
SJ (Historical Sites of Jakarta), "inilah perjanjian internasional
pertama di negara kepulauan yang kemudian dikenal sebagai Indonesia
kini". Di dalam tulisan J.D. Baros (Da Asia), dalam perjanjian
itu, saksi dari Sunda Kelapa adalah 'Padam Tumongo, Ssamgydepati
et Bemgar, - yakni Paduka Tumenggung, Sang Adipati dan (Syah)bandar
dan dari pihak Portugis delapan orang. Masing-masing, Fernao
de Almeida (bendahari pelayaran); Fransisco Eanes (pencatat
muatan); Joao Countinho; Gil Barbosa; dan Thome Pinto. Menurut
Hoesein Djajadiningrat (Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten),
perjanjian itu (tidak ditandatangani oleh pihak Sunda, tetapi)
disyahkan menurut adat dengan mengadakan selamatan. |
|
| Abad ke 12 kapal Arab
sudah singgah di bandar-bandar pesisir utara Jawa. |
|
|
Sebagai tanda
perjanjian tersebut, sebuah batu besar ditanam di pantai.
Batu yang disebut padro itu ditemukan kembali pada tahun
1918, waktu dilakukan penggalian untuk membangun rumah
baru di pojok persimpangan Prinsen Straat dan Groene Straat
di Jakarta Kota. Jalan-jalan itu sekarang bernama Jl Cengkeh
dan Jl Nelayan Timur. Adapun batu padrao sekarang disimpan
dalam Museum Nasional di Jl. Medan Merdeka Barat. Lokasi
semula batu ini menunjukkan, bahwa pantai pada awal abad
ke-16, kurang lebih lurus dengan garis yang kini menjadi
Jl. Nelayan. |
|
| Tentang kenapa
Raja Pakuan Pajajaran menerima perjanjian tersebut diduga karena
mereka memandang kehadiran Portugis akan memperkokoh posisi
mereka dalam urusan niaga terutama lada, maupun dalam menghadapi
tentara Islam dari Kesultanan Demak, yang kekuatannya sedang
naik daun di Jawa Tengah. |
| Tentu saja, Perjanjian
Sunda-Portugis ini mencemaskan Sultan Trenggana dari Demak.
Maka, karena itu pada tahun 1526/1527, Fatahillah, panglima
pasukan Cirebon, yang bersekutu dengan Demak, mendatangi Sunda
Kelapa dengan 1.452 orang tentara. Dan sejak itu, penduduk Sunda
yang terkalahkan mundur ke arah Bogor. Adapun Jayakarta (nama
baru Sunda Kelapa sejak 1527) dihuni oleh 'Orang Banten' yang
terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon bersama
saudagar-saudagar Arab dan Tionghoa di muara Ciliwung. Adapun
penguasaannya berada di bawah Cirebon dan untuk kemudian di
bawah Banten. |
|
| Abad ke 16 kapal Portugis
atau galeon mulai tampak di perairan Lautan
Hindia dan sekitarnya. |
|
|
|
| Kapal layar Belanda pada sebuah
batu dari Kastael Batavia yang disimpan dalam
Museum Sejarah Jakarta. |
|
|
| Menurut perhitungan
dan perkiraan Dr. Soekanto, kejadian itu terjadi pada tanggal
22 Juni 1527, yang kini dirayakan sebagai hari jadi kota Jakarta.
Menurut Soekanto, pada hari itu Fatahillah memberi nama baru
pada Sunda Kelapa karena kemenangannya atas tentara Hindu Sunda
dan awak kapal Portugis. Tetapi, dasar historis hipotesis tersebut
ada beberapa yang meragukannya. Setidaknya Perdana Menteri RI
Ali Sastroamidjojo pada tahun 1956, sewaktu menghadiri perayaan
pertama hari ulang tahun Jakarta merasa terheran-heran dan setengah
mengejek 'peringatan ganjil' itu. |
 |
| Kapal Kompeni Belanda
yang menjadi tulang punggung imperium niaga dari
capetown sampai nagasaki dengan Batavia sebagai
pusat kegiatannya |
|
|
Sementara
itu, menurut Prof.Dr.Slametmuljana dari Universitas Indonesia,
penamaan kota ini menjadi Jayakarta baru diperoleh dari
adipati yang ketiga, yakni Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta.
Namun, belum terdapat data sejarah yang pasti membenarkan
salah satu hipotesis tersebut. Hanya saja, Walikota Soediro
(1952-1960), memperoleh dukungan dari Dewan Perwakilan
Rakyat untuk teori Dr. Soekanto. Maka, pemerintah Jakarta
berpegang pada teori ini. Keputusan 1956 tersebut disebut
sebagai 'kemenangan Soediro' berlandaskan 'kemenangan
Fatahillah' yang kurang pasti tanggalnya. Dengan demikian,
sebagaimana diungkapkan ahli sejarah Abdurrachman Surjomihardjo,
perdebatan historis itu telah diselesaikan (?) dengan
keputusan politis. |
|
| Dan,
menurut Dr. Soekanto, sebagai seorang pimpinan Muslim,
Fatahillah tentu teringat kepada Surah Al-Fath, ayat 1,
yang berbunyi, "Inna fatahna laka fathan mubinan," (Sungguh
Kami telah memberi kemenangan kepada mu, kemenangan yang
tegas atau Jayakarta). Sementara menurut Abdurrachman
Surjomihardjo, di samping itu, sering pula dipakai kata
Surakarta, yang berarti karya yang berani dan sakti. Tetapi
nama Jayakarta lebih terpakai. Adapun, nama Jakarta itu
sendiri muncul pertama kali dalam buku Joao de Barros,
Da Asia…, (Xacatra por outro nome Caravam - 'Xacatra yang
disebut juga Caravam (=Karawang). |
|

|
| Kapal Spanyol abad ke 16 yang masuk
perairan Indonesia lewat lautan pasifik |
|
|

|
Kapal Galleon Inggris dari
zaman Ratu Elizabeth I. Kapal seperti ini digunakan dari
abad 16 - 18. |
|
| Naskah
ini diterbitkan pada tahun 1552 dari sumber yang lebih tua. |
| <<
Sebelumnya |
|
|
 |